Status Prodi Aktif
Jenjang S-3
Perguruan Tinggi Universitas Indonesia
Kode Program Studi 11002
Nama Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar
Tanggal Berdiri 25 September 1993
SK Penyelenggaraan 11774/D/T/K-N/2012
Tanggal SK 03 Mei 2012
Rasio Dosen : Mahasiswa 1 : 4
Alamat Jl. Salemba Raya No. 6
Kode Pos
Telepon 021 31900908
Faximile 021 31900908
Email psbiomed@fk.ui.ac.id
Website
Gelar Lulusan
Deskripsi Pendidikan Doktor di Indonesia, terutama yang menyangkut bidang ilmu yang bersangkutan dengan kedokteran, dapat dirunut kembali kepada sejarah pendidikan kedokteran khususnya dan sejarah pendidikan tinggi umumnya. Pendidikan formal sendiri, terutama pendidikan tinggi, dilaksanakan di Indonesia sebagai hasil dari interaksi beberapa pandangan dan kebijakan pemerintah kolonial Hindia Belanda.Di satu pihak ada keperluan mendesak dari pemerintah kolonial dan perusahaan raksasa multinasional saat itu untuk tenaga kerja yang memenuhi syarat terampil, mampu melakukan pekerjaan formal tingkat menengah bawah (juru tulis, mandor, guru pendidikan dasar dan yang sekelas dengan itu), dididik dengan ongkos murah (di Indonesia sehingga tidak perlu ke Belanda,lama pendidikan yang singkat). Di pihak lain, pada kurun yang sama timbul kesadaran di Belanda, bahwa mereka telah mengambil terlalu banyak dan memberi terlalu sedikit ke tanah jajahan. Pandangan ini, yang timbul di kalangan intelektual, melahirkan gerakan yang kemudian dikenal sebagai Politik Etis. Para etisi ini, demikian mereka disebut, pada suatu masa berhasil mempengaruhi kebijakan pemerintah Belanda untuk tanah jajahan. Akan tetapi, mereka terpaksa melakukan kompromi dengan kepentingan praktis penguasa tanah jajahan dan kepentingan perusahaan multinasional. Dengan demikian, dimulailah pendidikan formal, termasuk kemudian pendidikan tinggi, di wilayah yang kelak menjadi Indonesia.\012\012Perspektif tersebut tampak dengan jelas dalam riwayat perkembangan pendidikan dokter di Indonesia. Sudah umum diketahui, pendidikan dokter di Indonesia dimulai dengan nama Sekolah Dokter Jawa, dengan lama pendidikan 3 tahun. Bila dilihat dengan perspektif pendidikan berbasis kompetensi, maka Sekolah Dokter Jawa ini sangat memenuhi syarat, karena lulusannya dirumuskan mampu mendiagnosis dan mengobati penyakit yang umum ditemui, yang sangat mengganggu produktivitas rakyat untuk bekerja menghasilkan komoditas yang sangat diperlukan pemerintah kolonial, baik melalui Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) mau pun yang kemudian melalui kontrak kerja (koelie contraact) di berbagai perkebunan besar (onderneming) milik perusahaan multinasional.Pada bagian akhir abad ke 19, Sekolah Dokter Jawa ini dirasakan tidak memenuhi syarat lagi sehingga dibentuklah School tot Opleiding voor Inlandsche Arts (STOVIA) atau Sekolah Dokter Pribumi.dengan lama pendidikan 3 kali Sekolah Dokter Jawa dan syarat masuk yang jauh lebih berat. Istilah Inlandsche (pribumi) ini bernada melecehkan (ingat istilah inlander), sehingga kemudian diganti dengan nama Indische (Hindia), dengan singkatan tetap STOVIA. Gelar dokter Hindia (Indische Arts) ini tetap mengandung pandangan diskriminatif. Ada dokter Hindia, ada dokter tamatan Belanda, yang tercermin dalam penggajian. Secara akademis, STOVIA tidak mempunyai wewenang untuk menghasilkan Doktor dan mereka yang berminat untuk itu harus pergi ke Belanda.\012\012Pendidikan dokter dalam bentuk perguruan tinggi yang mempunya kewenangan penuh baru terlaksana dengan dibukanya Geeneskundige Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran, yang sejak awal mengambil tempat di kampus Salemba, kampus FKUI sekarang ini. Sebagai Sekolah Tinggi, GHS mempunyai wewenang untuk mencetak Doktor dalam ilmu kedokteran. Salah satu Doktor yang dicetak GHS ialah Dr.Injo Beng Liong (24 Mei 1940) dan Dr. Ouw Eng Liang (31 Mei 1940).Dr.Injo Beng Liong kelak dikenal sebagai Dr.Tjaja Indrajana dan dikenal sebagai seorang alergologis, sesuai dengan disertasinya, sedangkan Dr. Ouw Eng Liang kelak di masa FKUI tahun 1950\303\242\342\202\254\342\204\242an menjadi Prof.Dr.Ouw Eng Liang dan mengepalai Departemen Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut FKUI, bidang yang ditelitinya untuk disertasinya. Bila diperhatikan, keduanya mempertahankan disertasi doktor pada tahun 1940, di masa senja pemerintahan kolonial.\012\012Perubahan politik selalu berdampak kepada kehidupan masyarakat. Dunia pendidikan tidak terlepas dari hal itu. Pendudukan Jepang untuk sementara menutup seluruh pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi kedokteran baru dibuka lagi tahun 1943, dengan nama Ika Daigaku.Kemerdekaan Indonesia memberi kesempatan kepada bangsa ini untuk merumuskan visi besar mereka dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata, yang dirumuskan dengan anggun dalam Mukaddimah UUD 45, dalam kalimat \303\242\342\202\254\302\235mencerdaskan kehidupan bangsa\303\242\342\202\254\302\235. Sebagai wujud dari rasa tanggung jawab akan visi tersebut, didirikan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia, yang antara lain mencakup Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan politik, pemerintah RI terpaksa pindah ke Yogyakarta, Balai Perguruan Tinggi RI ikut serta. Perguruan Tinggi Kedokteran juga pindah ke Solo dan Klaten. Sementara itu, pemerintah NICA mendirikan Nooduniversiteit van Indonesie (Universitas sementara Indonesia) di Jakarta, yang mereka sebut kembalisebagai Batavia. Ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) terbentuk sebagai hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) di den Haag, akhir 1949, Republik Indonesia menjadi salah satu Negara Bagian RIS. Sebagian dari Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia menetap di Yogyakarta dan menjadi Universitas Gajah Mada, yang didirikan akhir 1949. KMB mengharuskan pemerintah Belanda untuk menyerahkan segala inventarisnya di Indonesia, termasuk sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Nooduniversiteit van Indonesie tidak terkecuali. Hasil penggabungannya dengan Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia melahirkan Universiteit (kemudian Universitas) Indonesia, pada bulan Februari 1950.\012\012Sudah semenjak kelahirannya dalam pangkuan Republik Indonesia, FKUI yang menjadi bagian dari Universitas Indonesia, melaksanakan tugas pendidikan tinggi sebagai rasa tanggung jawab atas amanat UUD. Pendidikan Doktor tidak luput dari perhatian. Pada tahun kelahiran UI tersebut FKUI sudah menghasilkan Doktor dalam bidang yang digelutinya. Pendidikan Doktor ini berjalan dari tahun ke tahun, seiring dengan irama dinamika bangsa dengan segala pasang naik dan surutnya. Akhirnya, seiring dengan kesadaran untuk duduk sama rendah dan tegak sama tinggi dengan bansa lain, dirasakan perlu untuk mempercepat masa pendidikan Doktor dengan membuatnya lebih terarah sehingga produktivitasnya pun maningkat. Hal itu tercermin dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0207/M/1987, yang menyatakan bahwa pendidikan Doktor harus dilakukan secara terstruktur dan ditampung dalam Fakultas Pasca Sarjana dan kemudian dalam Program Pendidikan Pasca Sarjana (PP 30 Juli 1990).\012\012Sementara itu, sejalan dengan stratifikasi pendidikan tinggi di Indonesia dalam 3 tingkat dan dibukanya program Magister Biomedik yang menerima peserta bukan hanya lulusan dokter, ditambah dengan perkembangan ilmu pengetahuan Biomedik sendiri, maka dirasa perlu untuk membuat program doktor tersendiri untuk ilmu biomedik. Dengan adanya program ini, para pemegang gelar Magister Biomedik memperoleh wadah untuk menuntaskan pendidikan dan penelitiannya ke jenjang yang tertinggi. Di pihak lain, program ini sangat memacu perkembangan ilmu Biomedik di Indonesia.\012
Visi Menjadi salah satu pusat pendidikan berbasis penelitian tingkat Doktor yang unggul dalam bidang ilmu biomedik.
Misi 1.\011Mematangkan peneliti (para Magister dan peneliti lain yang memenuhi syarat) dalam berbagai masalah Ilmu Biomedik, melalui penelitian itu sendiri yang memiliki keaslian dan kebaruan. Asas yang dianut ialah mematangkan peneliti melalui penelitian yang mandiri, berdaya saing dan asli.\0122.\011Menggalakkan, menyiapkan dan melaksanakan penelitian dalam berbagai masalah Ilmu Biomedik yang layak publikasi, nasional dan internasional atau yang hasilnya dapat dipatenkan.\0123.\011Menjalin kerja sama dengan berbagai institusi dalam dan luar negeri, baik untuk penelitian mau pun untuk pendidikan.\012
Kompetensi Program Studi -
Capaian Pembelajaran -
No. NIDN Nama Dosen Gelar Pendidikan
1 0028125201 ENDANG SRI ROOSTINI dr. M.S., Sp.PA(K) Sp-2
2 0306096803 DWI ANITA SURYANDARI Dr. Dra. M.Biomed S-3
3 0029026801 BETI ERNAWATI DEWI Dra. Ph.D. S-3
4 0026066214 TANIAWATI SUPALI Dr. Dra. S-3
5 0004056214 AGNES KURNIAWAN dr. Ph.D., SpParK S-3
6 0025016006 TJAHJANI MIRAWATI SUDIRO dr. Ph.D. S-3
7 0001045506 INGE SUTANTO Prof. Dr. dr. M.Phill., SpParK S-3
8 0025075403 JEANNE ADIWINATA PAWITAN Prof. dr M.S., Ph.D. S-3
9 0009115308 AMIN SUBANDRIO W KUSUMO Prof. dr. Ph.D., SpMK S-3
10 0002115106 HERAWATI ARU SUDOJO dr. Ph.D. S-3
11 0006114805 MOHAMMAD SADIKIN Prof., Dr., dr. D.Sc. S-3

Comments